Mirip dengan azab yang dialami kaum
Nabi Luth AS. Mayat-mayat
bergelimpangan yang sedang melakukan
maksiat, ada juga yang melakukannya
dengan sejenis. Na'udzubiLLahi min
dzalik.
Menjelang siang denyut Pompeii, belum sepenuhnya menyala. Warga kota megah di kaki Gunung Vesuvius, Italia itu masih terlelap sisa pesta semalam suntuk hari sebelumnya.
Nyaris menjadi kebiasaan warga kota,
menggelar pesta mengumbar semua kegilaan duniawi. Semua jenis minuman
ditenggak. Jangan tanya seberat apa kadar alkoholnya. Jiwa seperti
terbang dari raga. Pergaulan bebas.
Namun, hari itu, 24 Agustus tahun 79
Masehi, penghuni Pompeii yang masih asyik di peraduan tersentak. Mata
yang masih berat pun terpaksa terbuka ketika ranjang empuk bergetar
hebat. Langit rumah ikut bergoyang.
Belum ada semenit, mereka kembali
dikagetkan suara gemuruh yang turun dari gunung Vesuvius. Dalam sekejap,
patung-patung besar dari perunggu berpose mesum, gedung teater,
pemandian, arena gladiator serta rumah bordil --landmark termasyhur kota
itu-- roboh.
Orang-orang tumpah ke jalanan dengan
pandangan kosong tak berdaya. Mereka bertanya, "Apa yang sesungguhnya
sedang terjadi?" tulis Pliny muda (pejabat dan penyair Romawi)
menceritakan kisah menyeramkan itu lewat surat-surat bersejarahnya yang
kemudian dilansir kantor berita Inggris, BBC.
Kengerian itu sejatinya baru dimulai,
saat mata mereka terbelakak melihat batu besar terlempar ke langit
beserta lahar panas yang kemudian menghujam bumi. Semua itu muntahan isi
'perut' gunung Vesuvius yang tengah murka.
Letusan itu berlangsung seharian. Tanpa
ada peringatan serta jalan keluar, 20.000 orang penghuninya terjebak.
Lahar panas yang berlimpah ruah memanggang Pompeii. Membumihanguskan
semua tanda-tanda kehidupan.
Kota yang berdiri di bawah pemerintahan
Kaisar Romawi Nero lenyap seketika. Terkubur lahar panas dan debu
sedalam hingga tiga meter. Sejak itu Pompeii pun dilupakan orang.
Hampir dua millenium raib, Pompeii
secara tak sengaja ditemukan pada 1748. Kala itu, sejumlah arkeolog
mencari keberadaan artefak berharga dan harta karun di wilayah Campania,
sebelah tenggara kota Napoli, Italia.
Ketika itulah misteri hilangnya kota
Pompeii selama ribuan tahun akhirnya terbongkar. Bahkan lebih
mengejutkan adalah artefak yang ditemukan tidak hanya berupa tembikar
dan barang kuno, tetapi juga puluhan jasad dalam kondisi mengejutkan.
Ajaib! Jasad-jasad ditemukan dalam
kondisi utuh nyaris tanpa kerusakan. Kita bahkan bisa menyaksikan mimik
wajah warga Pompeii yang ketakutan saat menghadapi maut. Mayat-mayat
dengan segala pose itu mengeras, membatu dan diawetkan oleh abu.
Dari penemuan ini terungkap
karakteristik penduduk kota yang kaya raya pada waktu itu.
Kota itu
ternyata mengumbar perzinaan. Bahkan bisa diyakini telah menjadi surga
bagi kaum homoseksual. Pompeii penuhi dengan lokasi perzinahan atau
prostitusi yang menyebar di segala penjuru kota.
Bahkan saking banyaknya
hingga susah membedakan tempat pelacuran umum dan kawasan rumah biasa.
Diyakini, penduduk sering menggelar
perzinaan di rumah-rumah, di jalan-jalan, bahkan hampir setiap rumah
menjadi tempat pelacuran. Banyak ditemukan mayat–mayat bergelimpangan
yang sedang melakukan maksiat, ada juga yang melakukannya dengan
sejenis. Na’udzubiLLahi min dzalik.
Penduduk Pompeii pada saat itu dikatakan
mengamalkan kepercayaan 'Mithra' yang menyakini bahwa alat kelamin
serta persetubuhan tidak seharusnya dilakukan secara sembunyi tetapi
harus dilakukan di tempat terbuka. Tak heran jika Pompeii dijuluki 'kota
maksiat'.
Menurut ilmuwan dilansir Live Science,
sebelum kota ini hancur terkubur, penduduk di waktu itu tidak
menggubris tanda-tanda akan terjadinya letusan dashyat Gunung Vesuvius.
Mereka tidak ambil pusing dengan gempa kecil dan besar yang mengeringkan
sumur dan sumber mata air sebelumnya. Sementara anjing-anjing
menggonggong sedih atas diamnya burung-burung.
Penghancuran Pompeii mirip dengan azab
yang dialami kaum Nabi Luth AS yaitu penduduk Sodom atau Sadum yang
dikisahkan dalam Alquran. Dituturkan dalam Alquran, penduduk Sodom
melakukan berbagai kejahatan yang tidak biasa dilakukan oleh penjahat
manapun.
Selain merampok dan berkhianat kepada
sesama teman serta berwasiat dalam kemungkaran, penduduk Sodom melakukan
maksiat yang belum pernah ada di muka bumi sebelumnya. Mereka melakukan
perbuatan homoseks di kalangan lelakinya dan lesbian di kalangan
wanitanya.
Kedua jenis kemungkaran ini begitu merajalela di dalam masyarakat sehingga merupakan suatu kebudayaan bagi penduduk Sodom.
"Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika
ia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu
sedang kamu melihat(nya). Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk
(memenuhi) nafsu(mu), bukan mendatangi wanita? Sebenarnya kamu adalah
kaum yang tidak dapat mengetahui (akibat perbuatanmu)." (QS. an-Naml: 54-55).
Atas kemaksiatan yang melampaui batas
itu, Allah menurunkan azab dengan gempa bumi, hujan batu panas dan petir
yang memekakkan telinga. Bertebaran mayat-mayat yang dilaknat oleh
Allah di kota Sodom.
"Maka tatkala datang azab Kami, Kami
jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan
Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan
bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah
jauh dari orang- orang yang lalim." (QS. Hud: 82-83).
Meski telah lenyap berabad-abad yang
lalu, jejak Kota Sodom ternyata masih dapat ditelusuri. Penelitian
arkeologis mendapati, Kota Sodom terletak di tepi Laut Mati (dahulunya
merupakan Danau Luth). Kota ini memanjang di antara perbatasan
Israel-Yordania.
Temuan arkeolog ini diperkuat penelitian
seorang geolog asal Inggris bernama Graham Harris. Graham dan timnya
menemukan Sodom dibangun di pesisir Laut Mati dan penduduknya berdagang
aspal yang tersedia di wilayah tersebut. Daerah pemukiman warga Sodom
berupa dataran yang mudah diguncang gempa.
Di samping mendapati fakta Kota Sodom
adalah zona gempa bumi, selama penggalian tim geolog menemukan banyak
lapisan lahar dan batu basal bukti pernah terjadinya letusan gunung
berapi dan gempa bumi maha dahsyat di pesisir Laut Mati.
Hancurnya Pompeii dan Sodom menjadi
bukti kebesaran Allah yang kelak menurunkan azab ke umatnya yang tidak
beriman. Seperti yang tertuang dalam surat Al-A'raf ayat 96:
"Jikalau sekiranya penduduk
negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan
kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi jika mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya."



No comments:
Post a Comment